Sabtu, 07 Januari 2012

semut yang sombong dan kupu-kupu yang baik hati (dongeng spanyol)

Disebuah hutan diluar kota Madrid, hidup berbagai binatang. Ada semut, kelinci, burung, kucing, capung, kupu-kupu, dan binatang lainnya.
Suatu hari, badai dahsyat menerjang hutan itu. “Kraak, kraak,” terdengar bunyi pohon dan dahan-dahan patah disegala penjuru. Banyak binatang yang mati karena tidak bisa menyelamatkan diri.
Badai berlangsung sehari semalam. Menjelang pagi, barulah badai berhenti menyisakan kehancuran dimana-mana.
Sejenak, tidak tampak  ada kehidupan di hutan itu. Tiba tiba, dari dalam tanah muncul seekor semut. Semut itu berhasil selamat dari terjangan badai dengan cara masuk kedalam tanah.
Semut memandang sekelilingnya. Lalu, berjalan sambil memeriksa keadaan hutan. Langkahnya terhenti saat melihat kepompong tergeletak di tanah.
“Hmm, alangkah tidak enaknya menjadi kepompong, terkurung dan tidak bisa kemana-mana. Kalau aku sih bisa pergi kemana saja aku suka,” ejek semut kepada kepompong. Kepompong pun hanya diam membisu.
Beberapa hari kemudian, semut melewati sebuah jalan yang becek dan berlumpur. Ia tidak sadar kalau lumpur yang diinjaknya bisa mengisapnya.
“Aduh, sulit sekali berjalan ditempat becek seperti ini,” keluh semut. Semakin lama, tubuh semut semakin tenggelam dala lumpur.
“Tolong....tolong!” teriak semut.
“Wah, sepertinya kamu sedang kesulitan ya?”
Semut terheran-heran mendengar suara itu. Ia memandang sekelilingnya untuk mencari sumber suara. Tapi, ia hanya melihat seekor kupu-kupu terbang diatas kepalanya.
“Hei, aku adalah kepompong yang dulu kamu ejek. Sekarang, aku sudah menjadi kupu-kupu. Kamu tahu, aku bisa terbang kemana pun aku suka dengan sayapku. Sementara, lihatlah! Saat ini, kau tidak berjalan di lumpur itu, kan ? Kau akan ditelan lumpur itu sebentar lagi,” kata kupu-kupu.
Semut tediam malu. “Yah, aku sadar. Aku mohon maaf karena telah mengejekmu saat menjadi kepompong. Maukah kau menolongku sekarang?” pinta semut memelas.
Kupu-kupu pun berpikir sebentar. “Baiklah, aku akan menolongmu,” kata kupu-kupu.
Kupu-kupu lalu menarik semut dari dalam lumpur hingga selamat. “Terima kasih, kau telah menyelamatkan aku,” kata semut.
“Sudahlah, kita wajib menolong siapu pun yang sedang kesusahan, bukan? Tapi , lain kali kamu jangan suka mengejek kelemahan binatang lainnya. Setiap makhluk Tuhan pasti punya kelebihan dan kekurangan,” kata kupu-kupu menasehati semut.
Semut pun mengangguk malu. Sejak saat itu, semut dan kupu-kupu menjadi sahabat karib.

Related Posts by Categories

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar